Dipenghujung akhir tahun 2008 adalah moment yang paling tepat untuk melakukan muhasabah diri. Bukan saat untuk berfoya-foya menyambut datangnya tahun baru. Kenapa kebanyakan seluruh umat manusia pada bangga diri dan lupa daratan ketika merayakan tahun baru yang dipenuhi dengan aneka ragam hiburan? Bukankah setiap tahun baru itu berarti usia kita telah bertambah dan umur kita berkurang berkurang satu tahun? Belum lagi biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk acara perayaan malam tahun baru, sungguh ironis jika dikatakan bangsa kita ini sedang menderita, sementara triliunan rupiah hanya dijadikan petasan untuk menghiasi malam. Bahkan perayaan seperti ini telah menjadi tradisi yang tak pernah terlupakan meskipun rakyat dalam keadaan menangis sekalipun seperti halnya di akhir tahun 2004 terjadi tsunami di Aceh.
Bagi orang Islam seharusnya tidak hanya membaca do’a akhir tahun pada akhir tahun hijriyah saja dan doa awal tahun pada malam satu muharram juga. Kalau perlu doa tersebut juga dibaca ketika di akhir tahun masehi dan menjelang tahun baru. Karena keduanya pada dasarnya adalah sama yaitu untuk meminta keselamatan dan ampunan kepada Allah swt. Kini saatnya umat Islam harus mampu melakukan perubahan dengan perlahan menghilangkan budaya barat yang telah lama menggurita di bumi pertiwi. Hari ini sudah sulit untuk bisa dipilah, mana yang muslim dan yang tidak. Agama hanya menjadi sebatas identitas saja. Ini adalah akibat dari ulah kapitalisme global yang sengaja ingin melakukan ekspansi budaya ke seluruh dunia.
Muhasabah pada akhir tahun 2008 bukanlah menjadi acara ceremonial saja, melainkan menjadi agenda evaluasi bagi semuanya. Tidak pandang bulu siapa orangnya, apa lembaganya, dan macam apa jabatannya. Kalau kita ingin maju, jangan hanya mengkritisi pemerintahan saja namun pada diri kita sendiri juga harus dikritisi. Revolusi itu harus dilakukan secara bersamaan untuk melakukan perubahan menjadi bangsa yang makmur. Bangsa kita ini lagi sedang ribut saling menyalahkan satu sama lain dan masih mempertahankan egonya masing-masing. Dan ternyata yang diributkan adalah soal kepentingan dan jabatan belum pernah meributkan masalah pengangkatan kemiskinan. Semua orang pasti akan bangga jika wakil rakyat kita sedang ribut membicarakan solusi kemiskinan, tapi itu tidak pernah diributkan.
Tahun baru 2009 yang beberapa jam kemudian akan ditandai dengan penabuhan benderang dan membunyikan segala macam petasan yang warna-warni indahnya, itu artinya bahwa kita telah membakar masa lalu menjadi abu dan menggelorakan semangat juang yang tinggi untuk masa mendatang. Meskipun usia kita semakin berkurang namun kedewasaan kita menjadi bertambah. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan telah kita lalui bersama. Ada suka dan ada duka niscaya menjadi kalender indah yang tak terlupakan. Manusia harus selalu mempunyai harapan baru dan diperbarui, setapak demi setapak kita melangkah dan satu persatu kita memandang, setetes demi setetes keringat yang terkucur dari tubuh kita pasti tidak ada yang sia-sia. Suatu hari nanti, keringat yang kita keluarkan tadi menjadi air segar di saat kita haus dan segala usaha kita insya Alah menjadi saku kita tuk menghadap Tuhan kelak.
Setitik harapan harus mampu menjadi sinar dalam jiwa kita. Dan mampu menjadi motor penggerak semangat yang tak mengenal lelah. Tahun 2009 nanti kita akan dihadapkan dengan berbagai peristiwa, mulai dari pemilihan anggota legislative pada bulan april dan pemilahan presiden pada September mendatang jangan sampai kita terjebak dalam politik praktis. Kita sebagai orang awam bertindaklah sesuai kapasitasnya, biarlah para politisi yang bertarung toh nantinya mereka tak menggubris aduan rakyat juga. Kalau perlu kita bertepuk tangan, bersorak-sorai menyaksikan orang-orang yang sedang ditunggu janjinya. Biar mereka semakin takabbur, pada pamer massa bayaran, pada memperlihatkan kekuatan massa yang diklaim sebagai relawan sejatinya. Itu semua palsu, palsu, dan sampai kapanpun palsu.
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2008, kalau ada catatan simpanlah, kalau ada cerita ceritakanlah, kalau ada berita beritakanlah, bahkan kalau mau tertawa tertawalah yang sepuas-puasnya karena beberapa jam lagi tahun 2008 akan segera kita tinggalkan. Catatlah, ceritakanlah, beritakanlah dan tertawalah yang membawa hikmah dan manfaat bagi sesame. Siapa tahu ini adalah tahun terakhir dalam hidup kita. Semoga kita semua bisa menikmati tahun baru lagi dan khusnul khatimah, amin.
Jakarta, 31 Desember 2008
Minggu, 08 Maret 2009
MEMAKNAI THALIB AL-ILMI
Sedikit sekali para pelajar/mahasiswa yang mengerti akan arti seorang thalib(pencari) ilmu. Memaknai kata thalib dengan mengimplementasikannya sudah sulit ditemui dalam diri seorang pelajar/mahasiswa. Thalib dalam bahasa arab berarti pencari. Mencari tahu sesuatu yang belum diketahui. Menumbuhkan semangat keingintahuan agar selalu digelorakan dalam setiap saat. Karena thalib tidak sama arti dengan tilmidz. Kalau tilmidz berarti siswa. Siswa memiliki cirri yang khas yaitu selalu diberi pelajaran dan diarahkan tidak disuruh untuk mencari tahu sendiri. Namun dewasa ini terjadilah penggersangan rasa keingintahuan seorang pelajar/mahasiswa terhadap kajian-kajian keilmuan. Apa yang menjadi kewajiban dan larangannya hampir terlupakan atau mungkin memang tidak tahu sama sekali. Sebenarnya ada banyak hal yang harus dimengerti agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim yaitu :
1. Dzaka’ artinya pandai, artinya orang yang mencari ilmu itu harus memiliki kecerdasan dalam arti yang luas. Artinya sanggup untuk berfikir kritis dan analitis. Dengan sering berlatih menganalisa kajadian-kejadian sekitar kemudian dikorelasikan dengan kajian keilmuan. Apa yang telah kita pelajari sehari-hari perlu direalisasikan dalam sebuah tindakan yang berfaidah agar semua ilmu yang kita dapat bisa melekat dalam jiwa. Meskipun kelihatan sepele, namun memiliki manfaat yang luar biasa. Kita secara berangsur memiliki kekuatan berfikir yang analitis. Bertindak dari yang paling kecil dan banyak pasti akan membuahkan hasil yang banyak juga dari pada berbuat yang besar namun hanya sekali dan hasilnya pun belum tentu maksimal karena kurangnya experience (pengalaman). Apabila orang telah terbiasa dengan latihan-latihan seperti di atas tentu akan memperoleh apa yang dinamakan dzaka’ tersebut.
2. Hirsh artinya selalu lapar, lapar akan ilmu pengetahuan. Lapar yang seperti ini tidak sering dirasakan oleh setiap orang. Kalau perut selalu kenyang biasanya tidak lapar akan ilmu, malas berfikir, ngantuk, dan menumbuhkan hasrat birahi yang besar. Kalau pikiran sudah dikuasai oleh nafsu, akalpun akan kalah. Kalau orang sudah dijajah dengan kenakalan hawa nafsu, maka tak heran jika orang tersebut menjadi bodoh yang akhirnya selalu diperbudak oleh nafsu setan. Oleh karenanya kurangilah makan kalau ingin menang melawan hawa nafsu. Sehingga haus akan ilmu pun selalu datang setiap saat. Lapar akan ilmu pengetahuan adalah lambang menjadi orang yang bijak dan cerdas.
3. Ishthibar adalah sabar. Tidak hanya mencari ilmu yang memerlukan kesabaran, bahkan dalam bentuk apapun sabar itu menjadi nomor satu. Orang yang sabar selalu bisa menguasai diri dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Ilmu itu tidak seperti pekerjaan yang asal selesai dikerjakan. Ilmu adalah barang istemewa laksana mutiara yang mahal harganya. Dimanapun keberadaannya pasti akan dicari meskipun bercampur kotoran sekalipun. Memang tidak mudah memiliki watak yang sabar. Sabar disini identik dengan ketekunan. Telah banyak bukti kegagalan seseorang dikarenakan tidak memiliki kesabaran dan ketekunan. Jangan sampai hati ini terusik dengan rayuan setan yang menyesatkan. Termasuk salah satu ciri orang yang sudah tergoda setan adalah hilangnya kesabaran dalam jiwa. Oleh karena itu biasakanlah dengan berdzikir kepada Allah agar senantiasa selalu ingat kepada-Nya dan bersabar terhadap semua rintangan yang dihadapi. Karena kesabaran itu yang akan menghantarkan seseorang menduduki derajat yang tinggi.
4. Bulghat adalah saku. Tidak bisa dipungkiri materi juga dibutuhkan dalam rangka mencari ilmu. Namun jangan langsung menyerah karena materi itu bukan segala-galanya. Kalau ada kemauan pasti ada jalan (if there is a will there is a way) itulah pepatah pendahulu kita yang telah berhasil. Tidak sedikit para tokoh pada saat mengabdi menjadi santri hanya berbekal doa dari kedua orang tuanya, namun karena kegigihannya sehingga mereka bisa menjadi orang besar. Dalam budaya pesantren salaf ada istilah tirakat yang artinya meninggalkan dari sesuatu yang berlebihan. Tak heran para santri dahulu terbiasa dengan puasa senin-kamis, dan mengurangi makan. Kalau ditinjau dari ilmu medis tidak masuk akal orang yang kurang mengkonsumsi gizi dapat memiliki otak yang cerdas, tapi itulah kenyataannya yang tidak bisa dipungkiri mereka yang hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana bahkan makan ikan pun bisa dihitung namun mampu menyaingi anak jenderal/konglomerat dalam tataran ilmu sosial, politik dan wawasan kbangsaan seperti sekarang ini.
5. Irsyadu ustadzin adalah petunjuk guru. Sepandai-pandainya orang pasti tak lepas dari guru, bahkan ada pendapat yang lebih keras lagi, “orang yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan”. Terlepas dari pendapat tersebut, nasehat atau petunjuk guru sangat membantu dalam mengawal kesuksesan seseorang. Seperti nabi Muhammad sendiri pun diajari oleh malaikat Jibril sebagai pengantar wahyu yaitu perintah untuk membaca (iqra’). Janganlah bosan dan enggan untuk meminta petunjuk ataupun saran kepada orang yang dianggap membidangi pada pokok permasalahan. “(fas’alu ahla al-dzikri inkuntum la ta’lamun)”, petikan ayat al-Qur’an ini memberikan pengertian bahwa adanya perintah untuk bertanya kepada orang yang mengerti jika tidak tahu. Betapa pentingnya bertanya atau meminta petunjuk jika tidak ingin tersesat di jalan.
6. Thulu zaman yaitu butuh waktu lama. Berapa lama masa yang diperlukan itu relative tergantung usahanya masing-masing. Bahkan mencari ilmu itu tiada batas waktunya mulai dari buaian sang ibu sampai ke liang lahat. Pastinya kalau ingin memahami sesuatu harus giat dan mesti butuh waktu yang lama juga. Menela’ah satu persatu dari bab yang paling awal sehingga bab yang paling akhir. Tidak ada gunanya mempelajari sesuatu hanya sepenggal-sepenggal akibatnya mentah dan tidak mampu memahami persoalan.
Jakarta, 27 Desember 2008.
1. Dzaka’ artinya pandai, artinya orang yang mencari ilmu itu harus memiliki kecerdasan dalam arti yang luas. Artinya sanggup untuk berfikir kritis dan analitis. Dengan sering berlatih menganalisa kajadian-kejadian sekitar kemudian dikorelasikan dengan kajian keilmuan. Apa yang telah kita pelajari sehari-hari perlu direalisasikan dalam sebuah tindakan yang berfaidah agar semua ilmu yang kita dapat bisa melekat dalam jiwa. Meskipun kelihatan sepele, namun memiliki manfaat yang luar biasa. Kita secara berangsur memiliki kekuatan berfikir yang analitis. Bertindak dari yang paling kecil dan banyak pasti akan membuahkan hasil yang banyak juga dari pada berbuat yang besar namun hanya sekali dan hasilnya pun belum tentu maksimal karena kurangnya experience (pengalaman). Apabila orang telah terbiasa dengan latihan-latihan seperti di atas tentu akan memperoleh apa yang dinamakan dzaka’ tersebut.
2. Hirsh artinya selalu lapar, lapar akan ilmu pengetahuan. Lapar yang seperti ini tidak sering dirasakan oleh setiap orang. Kalau perut selalu kenyang biasanya tidak lapar akan ilmu, malas berfikir, ngantuk, dan menumbuhkan hasrat birahi yang besar. Kalau pikiran sudah dikuasai oleh nafsu, akalpun akan kalah. Kalau orang sudah dijajah dengan kenakalan hawa nafsu, maka tak heran jika orang tersebut menjadi bodoh yang akhirnya selalu diperbudak oleh nafsu setan. Oleh karenanya kurangilah makan kalau ingin menang melawan hawa nafsu. Sehingga haus akan ilmu pun selalu datang setiap saat. Lapar akan ilmu pengetahuan adalah lambang menjadi orang yang bijak dan cerdas.
3. Ishthibar adalah sabar. Tidak hanya mencari ilmu yang memerlukan kesabaran, bahkan dalam bentuk apapun sabar itu menjadi nomor satu. Orang yang sabar selalu bisa menguasai diri dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Ilmu itu tidak seperti pekerjaan yang asal selesai dikerjakan. Ilmu adalah barang istemewa laksana mutiara yang mahal harganya. Dimanapun keberadaannya pasti akan dicari meskipun bercampur kotoran sekalipun. Memang tidak mudah memiliki watak yang sabar. Sabar disini identik dengan ketekunan. Telah banyak bukti kegagalan seseorang dikarenakan tidak memiliki kesabaran dan ketekunan. Jangan sampai hati ini terusik dengan rayuan setan yang menyesatkan. Termasuk salah satu ciri orang yang sudah tergoda setan adalah hilangnya kesabaran dalam jiwa. Oleh karena itu biasakanlah dengan berdzikir kepada Allah agar senantiasa selalu ingat kepada-Nya dan bersabar terhadap semua rintangan yang dihadapi. Karena kesabaran itu yang akan menghantarkan seseorang menduduki derajat yang tinggi.
4. Bulghat adalah saku. Tidak bisa dipungkiri materi juga dibutuhkan dalam rangka mencari ilmu. Namun jangan langsung menyerah karena materi itu bukan segala-galanya. Kalau ada kemauan pasti ada jalan (if there is a will there is a way) itulah pepatah pendahulu kita yang telah berhasil. Tidak sedikit para tokoh pada saat mengabdi menjadi santri hanya berbekal doa dari kedua orang tuanya, namun karena kegigihannya sehingga mereka bisa menjadi orang besar. Dalam budaya pesantren salaf ada istilah tirakat yang artinya meninggalkan dari sesuatu yang berlebihan. Tak heran para santri dahulu terbiasa dengan puasa senin-kamis, dan mengurangi makan. Kalau ditinjau dari ilmu medis tidak masuk akal orang yang kurang mengkonsumsi gizi dapat memiliki otak yang cerdas, tapi itulah kenyataannya yang tidak bisa dipungkiri mereka yang hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana bahkan makan ikan pun bisa dihitung namun mampu menyaingi anak jenderal/konglomerat dalam tataran ilmu sosial, politik dan wawasan kbangsaan seperti sekarang ini.
5. Irsyadu ustadzin adalah petunjuk guru. Sepandai-pandainya orang pasti tak lepas dari guru, bahkan ada pendapat yang lebih keras lagi, “orang yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan”. Terlepas dari pendapat tersebut, nasehat atau petunjuk guru sangat membantu dalam mengawal kesuksesan seseorang. Seperti nabi Muhammad sendiri pun diajari oleh malaikat Jibril sebagai pengantar wahyu yaitu perintah untuk membaca (iqra’). Janganlah bosan dan enggan untuk meminta petunjuk ataupun saran kepada orang yang dianggap membidangi pada pokok permasalahan. “(fas’alu ahla al-dzikri inkuntum la ta’lamun)”, petikan ayat al-Qur’an ini memberikan pengertian bahwa adanya perintah untuk bertanya kepada orang yang mengerti jika tidak tahu. Betapa pentingnya bertanya atau meminta petunjuk jika tidak ingin tersesat di jalan.
6. Thulu zaman yaitu butuh waktu lama. Berapa lama masa yang diperlukan itu relative tergantung usahanya masing-masing. Bahkan mencari ilmu itu tiada batas waktunya mulai dari buaian sang ibu sampai ke liang lahat. Pastinya kalau ingin memahami sesuatu harus giat dan mesti butuh waktu yang lama juga. Menela’ah satu persatu dari bab yang paling awal sehingga bab yang paling akhir. Tidak ada gunanya mempelajari sesuatu hanya sepenggal-sepenggal akibatnya mentah dan tidak mampu memahami persoalan.
Jakarta, 27 Desember 2008.
WAKIL RAKYAT ATAU WAKIL RAYAP…? EKSISTENSI PARA CALEG DI HADAPAN MASYARAKAT
Pada bulan April 2009 mendatang para caleg dari berbagai partai akan berpesta ria. Ramainya bagaikan kapal pecah yang memuat barang-barang dagangan. Sekerumunan manusia pada berbondong-bondong mendekatinya laksana semut-semut hitam yang mengerubungi gula. Janji-janji manis para calon wakil rakyat terus ditebarkan. Dan tanpa hentinya para tamu berdatangan, mengenal, menyapa, pura-pura akrab kepada para calon wakil semut-semut hitam itu. Mereka tak tahu bahwa sesungguhnya yang didatangi itu adalah gembongnya semut yang juga nantinya akan menghisap darah rakyat. Hanya semut-semut bodohlah yang suka mendekat para calon wakil rayap toh nantinya mereka akan ditinggalkan juga.
Biarkan saja para calon legeslatif yang mendekati kita, jangan malah kita yang ingin kenal dengan mereka. Pasti nantinya dan tak lama kemudian setelah mereka terpilih akan lupa juga. Kalau perlu kita bohongi duluan sebelum kita dibohongi. Atau kita tipu sebelum kita ditipu. Kita liciki sebelum diliciki. Kan sekarang jamannya tega-tegaan. Masak para wakil rakyat yang tega dengan nasib rakyatnya selalu kita dukung, kita hormati, kita beri panggung untuk kampanye? Bodoh amat teman, kalau kita sampai mendukung, yang gak keluarganya, bukan saudaranya, bukan temannya dan bukan apa-apanya nggak pentinglah repot-repot apalagi sampai lupakan pekerjaan demi menyumbang suara untuk mereka. Wakil rakyat kita itu tidak pernah menyuarakan aspirasi rakyat.
Bicara eksistensi para caleg sudah menjadi hal yang membualkan, menyebalkan, dan membosankan. Tapi ingat kawan, mereka itu sudah pandai dengan wilayah garapannya. Bagaimana mereka bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, banyak cara yang mereka lakukan. Mulai dari yang sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan itu memang bakatnya. Dasar ahli potitik yang memiliki banyak wajah. Dalam setiap kesempatan bisa berubah-rubah. Jika bertemu kiyai bisa berlagak kiyai dan bisa ngomong parmasalahan umat, ketemu petani bisa berlagak petani dan mampu ngomong problem pertanian, ketemu mahasiswa malah lebih gampang cara adaptasinya. Kita tahulah….mahasiswa kan mengidap penyakit kanker (kantong kering) jadi gampang tuh atasannya. Malahan para politisi suka ngompreng dengan anak kampus. Bikin acara apa ajalah yang penting bisa ditumpangi para bandot politik. Rusak kawan sekarang ini.
Mau bagaimana lagi dan apa lagi yang harus kita lakukan. Memang Negara lagi hancur ya biarlah hancur. Nantikan pasti ada pembangunan baru, model baru, dan serba baru. Tapi entah kapan itu dilaksanakan. Belum pernah ada rapat, belum pernah ada rencana mau dibangun lagi yang lebih baru. Kan penghuninya masih ada, ya tokoh-tokoh tua itulah yang belum mau mundur. Sok kuat, jangan-jangan meniru Harifin Tumpa yang jatuh saat mau melantik para hakim. Sadarlah para pemimpin yang belum mampu mengatasi segala persoalan bangsa. Bangsa kita ini menangis, merintih, resah, lemah, dan miskin. Nggak tahan Tuhan kalau dipertahankan. Kapan engkau kirim hambamu yang sholih ke muka bumi tuk memimpin dan bisa mengemban amanah sebagai khalifatu al-ardl (pemimpin di muka bumi). Kami mendamba datangnya Ratu Adil, apakah dia itu Imam Mahdi yang baru turun mejelang kiamat tiba? Atau sejenis Imam Mahdi yang datang dengan muka senyum, menebar kasih sayang, toleransi, menciptakan keadilan dan memberantas kemungkaran?.
Tapi rasanya masih jauh dambaan itu tercapai. Melihat kenyataan generasi sekarang ini yang dikader oleh orang-orang bobrok. Generasi yang dikhianati pasti akan mengkhianati, generasi yang dikecewakan pasti akan mengecewakan selalu terjadi bergantian. Kalau tidak salah bangsa kita ini belum mampu menyaingi seperti bangsa-bangsa lain yang sudah maju sebelum seratus tahun berjalan setelah proklamasi kemerdekaan. Kalimat ini bukan tanpa alasan. Melihat sejarah kejayaan bangsa terdahulu, pembaharuan (mujaddid) terjadi setelah satu abad. Bisa jadi seratus tahun setelah kelahiran Budi Utomo yang dikenal dengan hari Kebangkitan Naisonal atau seratus tahun setelah kemerdekaan RI.
Mengakhiri wacana yang agak berani, senantiasa kita selalu menjadi bangsa yang kritis dan optimis. Jangan menjadi bangsa penakut dan pesimis. Mari kita gelorakan semangat optimisme bangsa. Kita adalah kita, bukan mereka, bukan bangsa sana. Kita maksimalkan dan perdayakan orang-orang kita, produk-produk kita sendiri agar menjadi bangsa yang kuat dan mandiri. Jangan lemah sahabat-sahabatku sekalian! Hari ini mungkin kita tertindas, teraniaya, lemah namun hati kita, fikiran kita, mata batin kita Insya allah selalu memancarkan cahaya menerangi alam sekitar dengan segala usaha yang tiada henti. Mampu memberi manfaat kepada sesame atas pengabdian kita kepada mereka. Meskipun hanya setitik yang bisa kita berikan tiadalah sia-sia. Khidmatkanlah jiwa dan raga ini untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan agama.
Jakarta, 02 Januari 2009
Silahkan kirim komentar anda, saran, atau kritik ke alamat berikut :
Atau sms (081 388 729 302)
Biarkan saja para calon legeslatif yang mendekati kita, jangan malah kita yang ingin kenal dengan mereka. Pasti nantinya dan tak lama kemudian setelah mereka terpilih akan lupa juga. Kalau perlu kita bohongi duluan sebelum kita dibohongi. Atau kita tipu sebelum kita ditipu. Kita liciki sebelum diliciki. Kan sekarang jamannya tega-tegaan. Masak para wakil rakyat yang tega dengan nasib rakyatnya selalu kita dukung, kita hormati, kita beri panggung untuk kampanye? Bodoh amat teman, kalau kita sampai mendukung, yang gak keluarganya, bukan saudaranya, bukan temannya dan bukan apa-apanya nggak pentinglah repot-repot apalagi sampai lupakan pekerjaan demi menyumbang suara untuk mereka. Wakil rakyat kita itu tidak pernah menyuarakan aspirasi rakyat.
Bicara eksistensi para caleg sudah menjadi hal yang membualkan, menyebalkan, dan membosankan. Tapi ingat kawan, mereka itu sudah pandai dengan wilayah garapannya. Bagaimana mereka bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, banyak cara yang mereka lakukan. Mulai dari yang sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan itu memang bakatnya. Dasar ahli potitik yang memiliki banyak wajah. Dalam setiap kesempatan bisa berubah-rubah. Jika bertemu kiyai bisa berlagak kiyai dan bisa ngomong parmasalahan umat, ketemu petani bisa berlagak petani dan mampu ngomong problem pertanian, ketemu mahasiswa malah lebih gampang cara adaptasinya. Kita tahulah….mahasiswa kan mengidap penyakit kanker (kantong kering) jadi gampang tuh atasannya. Malahan para politisi suka ngompreng dengan anak kampus. Bikin acara apa ajalah yang penting bisa ditumpangi para bandot politik. Rusak kawan sekarang ini.
Mau bagaimana lagi dan apa lagi yang harus kita lakukan. Memang Negara lagi hancur ya biarlah hancur. Nantikan pasti ada pembangunan baru, model baru, dan serba baru. Tapi entah kapan itu dilaksanakan. Belum pernah ada rapat, belum pernah ada rencana mau dibangun lagi yang lebih baru. Kan penghuninya masih ada, ya tokoh-tokoh tua itulah yang belum mau mundur. Sok kuat, jangan-jangan meniru Harifin Tumpa yang jatuh saat mau melantik para hakim. Sadarlah para pemimpin yang belum mampu mengatasi segala persoalan bangsa. Bangsa kita ini menangis, merintih, resah, lemah, dan miskin. Nggak tahan Tuhan kalau dipertahankan. Kapan engkau kirim hambamu yang sholih ke muka bumi tuk memimpin dan bisa mengemban amanah sebagai khalifatu al-ardl (pemimpin di muka bumi). Kami mendamba datangnya Ratu Adil, apakah dia itu Imam Mahdi yang baru turun mejelang kiamat tiba? Atau sejenis Imam Mahdi yang datang dengan muka senyum, menebar kasih sayang, toleransi, menciptakan keadilan dan memberantas kemungkaran?.
Tapi rasanya masih jauh dambaan itu tercapai. Melihat kenyataan generasi sekarang ini yang dikader oleh orang-orang bobrok. Generasi yang dikhianati pasti akan mengkhianati, generasi yang dikecewakan pasti akan mengecewakan selalu terjadi bergantian. Kalau tidak salah bangsa kita ini belum mampu menyaingi seperti bangsa-bangsa lain yang sudah maju sebelum seratus tahun berjalan setelah proklamasi kemerdekaan. Kalimat ini bukan tanpa alasan. Melihat sejarah kejayaan bangsa terdahulu, pembaharuan (mujaddid) terjadi setelah satu abad. Bisa jadi seratus tahun setelah kelahiran Budi Utomo yang dikenal dengan hari Kebangkitan Naisonal atau seratus tahun setelah kemerdekaan RI.
Mengakhiri wacana yang agak berani, senantiasa kita selalu menjadi bangsa yang kritis dan optimis. Jangan menjadi bangsa penakut dan pesimis. Mari kita gelorakan semangat optimisme bangsa. Kita adalah kita, bukan mereka, bukan bangsa sana. Kita maksimalkan dan perdayakan orang-orang kita, produk-produk kita sendiri agar menjadi bangsa yang kuat dan mandiri. Jangan lemah sahabat-sahabatku sekalian! Hari ini mungkin kita tertindas, teraniaya, lemah namun hati kita, fikiran kita, mata batin kita Insya allah selalu memancarkan cahaya menerangi alam sekitar dengan segala usaha yang tiada henti. Mampu memberi manfaat kepada sesame atas pengabdian kita kepada mereka. Meskipun hanya setitik yang bisa kita berikan tiadalah sia-sia. Khidmatkanlah jiwa dan raga ini untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan agama.
Jakarta, 02 Januari 2009
Silahkan kirim komentar anda, saran, atau kritik ke alamat berikut :
Atau sms (081 388 729 302)
Kamis, 01 Januari 2009
MAHASISWA, ORGANISASI, DAN REALITAS SOSIAL
Berorganisasi, sebuah kegiatan yang memiliki kekuatan lebih untuk mengatur kehidupan dengan berbagai macam variasinya, sangat membantu menghapuskan keterbelakangan dan keterpurukan.
Hal ini perlu ditanamkan sejak dini dalam jiwa seseorang sebagai langkah awal (starting point) untuk memupuk semangat patriotisme. Dan bahkan perlu diajarkan mulai dari bangku sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi menurut kapasitasnya masing-masing.
Jika diamati dalam ranah sosial, akan sangat kentara (Jawa: Jelas) sekali terlihat di antara orang-orang yang belajar berorganisasi dan yang tidak belajar beroraganisasi.
Orang yang mempunyai basic organisasi akan dapat melihat dengan kritis berbagai ketidakadilan dan penindasan yang terjadi setiap saat di lingkuagan kita. Sedangkan orang yang tidak memiliki basic organisasi akan cenderung bersifat acuh tak acuh, apreori terhadap kondisi sekitar dan kurang memiliki rasa solidaritas yang terhadap sesama. Hal ini dimungkinkan karena pemupukan rasa saling membutuhkan sudah pasti ditanamkan sejak dini dalam setiap organisasi.
Esensi dari sebuah organisasi adalah agar setiap individu bisa hidup bermasyarakat dengan baik dan benar.
Sebagai kaum akademisi, nantinya juga dituntut untuk mampu menciptakan suasana masyarakat yang gandrung akan keadilan dan kesejahteraan, dan peka terhadap adanya ketidakadilan dan penindasan.
Paling tidak, spirit untuk sadar diri seperti ini harus sudah ada, dan dimiliki oleh para mahasiswa, agar tidak kehilangan élan vitalnya sebagai kaum pembawa perubahan.
Tanpa ada gerakan semacam ini, belum tentu sebuah keadilan, kesejahteran dan kemakmuran mampu dihadirkan di tengah-tengah masyarakat pada saat ini.
Singkatnya, gerakan kemahasiswaan harus menjadi pioneer dan penentu perubahan pemerintahan dan tatanan sosial.
Sekedar kilas balik, system perekuliahan di kampus hanyalah berhenti pada tataran teoritis, belum menyentuh pada aplikasi langsung. Padahal, di samping mahasiswa mengenal berbagai macam teori, juga harus mampu berhadapan dengan kompleksitas persoalan yang muncul dimasyarakat, dan kesemuanya itu tidak mungkin dibahas di bangku perkuliahan.
Berbagai macam isu yang berkembang ini, hanya dikaji secara mendalam di berbagai kegiatan organisasi pada bidangnya masing-masing.
Apakah kita sebagai mahasiswa hanya akan berdiam diri dan duduk manis di bangku kuliah menunggu dosen menjejali kita dengan teori-teori yang mungkin sudah usang?
Akan ada banyak pengalaman yang berharga yang didapat dalam perjalanan organisasi, yang kemungkinannya sangat kecil jika kita berharap dapat diperoleh dari mata kuliah.
Asumsi ini dapat kita lihat dari pengalaman gerakan mahasiswa, yang mampu mendobrak angkuhnya rezim otoriter diberbagai penjuru dunia.
Seperti halnya gerakan politik mahasiwa tahun 1966 yang berhasil meruntuhkan demokrasi terpimpin yang ditetapkan oleh presiden Soekarno, kemudian gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang berhasil menumbangkan Orde Baru, yang selama tiga dasa warsa telah menggurita dalam kehidupan politik di masyarakat Indonesia.
Kepekaan seseorang terhadap gejolak yang timbul di masyarakat maupun pemerintahan tidak secara otomatis bisa dimiliki, melainkan memerlukan sebuah proses perjalan yang panjang.
Proses semacam itu bisa diawali dari sebuah pembelajaran organisasi di intra maupun ekstra kampus.
Dengan berbagai macam tugas organisasi yang sering digelutinya, maka organ-organ yang bergerak di dalamnya akan semakin kritis dan peka terhadap segala macam persolan yang ada.
Mahasiswa dan organisasi setidaknya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan demikian, maka para aktivis organisasi akan menjadi sosok yang siap memperjuangkan hak-hak rakyat, sesuai kapasitasnya sebagai mahasiswa dan khalifatul ardl.
Diskursus tentang peran mahasiswa dalam konstelasi politik nasional memang tidak pernah usang. Diskursus itu bukan semata-mata karena peranan mahasiswa selalu dilingkupi dan dipengaruhi oleh system yang berlaku, namun yang lebih krusial lagi adalah karena peran itu dimainkan dalam kondisi steril dari kepentingan dan memiliki bobot pressure yang besar, ketimbang gerakan-gerakan kritis lainnya.
Sekaitan dengan berbagai persoalan bangsa, organisasi-organisasi yang diusung oleh para aktivis mahasiswa diharapkan mampu memberangus kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat.
Jakarta, 12 Juni 2008
Oleh: Sholeh Hadi
"Redaktur GMPP"
Hal ini perlu ditanamkan sejak dini dalam jiwa seseorang sebagai langkah awal (starting point) untuk memupuk semangat patriotisme. Dan bahkan perlu diajarkan mulai dari bangku sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi menurut kapasitasnya masing-masing.
Jika diamati dalam ranah sosial, akan sangat kentara (Jawa: Jelas) sekali terlihat di antara orang-orang yang belajar berorganisasi dan yang tidak belajar beroraganisasi.
Orang yang mempunyai basic organisasi akan dapat melihat dengan kritis berbagai ketidakadilan dan penindasan yang terjadi setiap saat di lingkuagan kita. Sedangkan orang yang tidak memiliki basic organisasi akan cenderung bersifat acuh tak acuh, apreori terhadap kondisi sekitar dan kurang memiliki rasa solidaritas yang terhadap sesama. Hal ini dimungkinkan karena pemupukan rasa saling membutuhkan sudah pasti ditanamkan sejak dini dalam setiap organisasi.
Esensi dari sebuah organisasi adalah agar setiap individu bisa hidup bermasyarakat dengan baik dan benar.
Sebagai kaum akademisi, nantinya juga dituntut untuk mampu menciptakan suasana masyarakat yang gandrung akan keadilan dan kesejahteraan, dan peka terhadap adanya ketidakadilan dan penindasan.
Paling tidak, spirit untuk sadar diri seperti ini harus sudah ada, dan dimiliki oleh para mahasiswa, agar tidak kehilangan élan vitalnya sebagai kaum pembawa perubahan.
Tanpa ada gerakan semacam ini, belum tentu sebuah keadilan, kesejahteran dan kemakmuran mampu dihadirkan di tengah-tengah masyarakat pada saat ini.
Singkatnya, gerakan kemahasiswaan harus menjadi pioneer dan penentu perubahan pemerintahan dan tatanan sosial.
Sekedar kilas balik, system perekuliahan di kampus hanyalah berhenti pada tataran teoritis, belum menyentuh pada aplikasi langsung. Padahal, di samping mahasiswa mengenal berbagai macam teori, juga harus mampu berhadapan dengan kompleksitas persoalan yang muncul dimasyarakat, dan kesemuanya itu tidak mungkin dibahas di bangku perkuliahan.
Berbagai macam isu yang berkembang ini, hanya dikaji secara mendalam di berbagai kegiatan organisasi pada bidangnya masing-masing.
Apakah kita sebagai mahasiswa hanya akan berdiam diri dan duduk manis di bangku kuliah menunggu dosen menjejali kita dengan teori-teori yang mungkin sudah usang?
Akan ada banyak pengalaman yang berharga yang didapat dalam perjalanan organisasi, yang kemungkinannya sangat kecil jika kita berharap dapat diperoleh dari mata kuliah.
Asumsi ini dapat kita lihat dari pengalaman gerakan mahasiswa, yang mampu mendobrak angkuhnya rezim otoriter diberbagai penjuru dunia.
Seperti halnya gerakan politik mahasiwa tahun 1966 yang berhasil meruntuhkan demokrasi terpimpin yang ditetapkan oleh presiden Soekarno, kemudian gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang berhasil menumbangkan Orde Baru, yang selama tiga dasa warsa telah menggurita dalam kehidupan politik di masyarakat Indonesia.
Kepekaan seseorang terhadap gejolak yang timbul di masyarakat maupun pemerintahan tidak secara otomatis bisa dimiliki, melainkan memerlukan sebuah proses perjalan yang panjang.
Proses semacam itu bisa diawali dari sebuah pembelajaran organisasi di intra maupun ekstra kampus.
Dengan berbagai macam tugas organisasi yang sering digelutinya, maka organ-organ yang bergerak di dalamnya akan semakin kritis dan peka terhadap segala macam persolan yang ada.
Mahasiswa dan organisasi setidaknya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan demikian, maka para aktivis organisasi akan menjadi sosok yang siap memperjuangkan hak-hak rakyat, sesuai kapasitasnya sebagai mahasiswa dan khalifatul ardl.
Diskursus tentang peran mahasiswa dalam konstelasi politik nasional memang tidak pernah usang. Diskursus itu bukan semata-mata karena peranan mahasiswa selalu dilingkupi dan dipengaruhi oleh system yang berlaku, namun yang lebih krusial lagi adalah karena peran itu dimainkan dalam kondisi steril dari kepentingan dan memiliki bobot pressure yang besar, ketimbang gerakan-gerakan kritis lainnya.
Sekaitan dengan berbagai persoalan bangsa, organisasi-organisasi yang diusung oleh para aktivis mahasiswa diharapkan mampu memberangus kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat.
Jakarta, 12 Juni 2008
Oleh: Sholeh Hadi
"Redaktur GMPP"
Langganan:
Postingan (Atom)