Kamis, 01 Januari 2009

MAHASISWA, ORGANISASI, DAN REALITAS SOSIAL

Berorganisasi, sebuah kegiatan yang memiliki kekuatan lebih untuk mengatur kehidupan dengan berbagai macam variasinya, sangat membantu menghapuskan keterbelakangan dan keterpurukan.
Hal ini perlu ditanamkan sejak dini dalam jiwa seseorang sebagai langkah awal (starting point) untuk memupuk semangat patriotisme. Dan bahkan perlu diajarkan mulai dari bangku sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi menurut kapasitasnya masing-masing.
Jika diamati dalam ranah sosial, akan sangat kentara (Jawa: Jelas) sekali terlihat di antara orang-orang yang belajar berorganisasi dan yang tidak belajar beroraganisasi.
Orang yang mempunyai basic organisasi akan dapat melihat dengan kritis berbagai ketidakadilan dan penindasan yang terjadi setiap saat di lingkuagan kita. Sedangkan orang yang tidak memiliki basic organisasi akan cenderung bersifat acuh tak acuh, apreori terhadap kondisi sekitar dan kurang memiliki rasa solidaritas yang terhadap sesama. Hal ini dimungkinkan karena pemupukan rasa saling membutuhkan sudah pasti ditanamkan sejak dini dalam setiap organisasi.
Esensi dari sebuah organisasi adalah agar setiap individu bisa hidup bermasyarakat dengan baik dan benar.
Sebagai kaum akademisi, nantinya juga dituntut untuk mampu menciptakan suasana masyarakat yang gandrung akan keadilan dan kesejahteraan, dan peka terhadap adanya ketidakadilan dan penindasan.
Paling tidak, spirit untuk sadar diri seperti ini harus sudah ada, dan dimiliki oleh para mahasiswa, agar tidak kehilangan élan vitalnya sebagai kaum pembawa perubahan.
Tanpa ada gerakan semacam ini, belum tentu sebuah keadilan, kesejahteran dan kemakmuran mampu dihadirkan di tengah-tengah masyarakat pada saat ini.
Singkatnya, gerakan kemahasiswaan harus menjadi pioneer dan penentu perubahan pemerintahan dan tatanan sosial.
Sekedar kilas balik, system perekuliahan di kampus hanyalah berhenti pada tataran teoritis, belum menyentuh pada aplikasi langsung. Padahal, di samping mahasiswa mengenal berbagai macam teori, juga harus mampu berhadapan dengan kompleksitas persoalan yang muncul dimasyarakat, dan kesemuanya itu tidak mungkin dibahas di bangku perkuliahan.
Berbagai macam isu yang berkembang ini, hanya dikaji secara mendalam di berbagai kegiatan organisasi pada bidangnya masing-masing.
Apakah kita sebagai mahasiswa hanya akan berdiam diri dan duduk manis di bangku kuliah menunggu dosen menjejali kita dengan teori-teori yang mungkin sudah usang?
Akan ada banyak pengalaman yang berharga yang didapat dalam perjalanan organisasi, yang kemungkinannya sangat kecil jika kita berharap dapat diperoleh dari mata kuliah.
Asumsi ini dapat kita lihat dari pengalaman gerakan mahasiswa, yang mampu mendobrak angkuhnya rezim otoriter diberbagai penjuru dunia.
Seperti halnya gerakan politik mahasiwa tahun 1966 yang berhasil meruntuhkan demokrasi terpimpin yang ditetapkan oleh presiden Soekarno, kemudian gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang berhasil menumbangkan Orde Baru, yang selama tiga dasa warsa telah menggurita dalam kehidupan politik di masyarakat Indonesia.
Kepekaan seseorang terhadap gejolak yang timbul di masyarakat maupun pemerintahan tidak secara otomatis bisa dimiliki, melainkan memerlukan sebuah proses perjalan yang panjang.
Proses semacam itu bisa diawali dari sebuah pembelajaran organisasi di intra maupun ekstra kampus.
Dengan berbagai macam tugas organisasi yang sering digelutinya, maka organ-organ yang bergerak di dalamnya akan semakin kritis dan peka terhadap segala macam persolan yang ada.
Mahasiswa dan organisasi setidaknya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan demikian, maka para aktivis organisasi akan menjadi sosok yang siap memperjuangkan hak-hak rakyat, sesuai kapasitasnya sebagai mahasiswa dan khalifatul ardl.
Diskursus tentang peran mahasiswa dalam konstelasi politik nasional memang tidak pernah usang. Diskursus itu bukan semata-mata karena peranan mahasiswa selalu dilingkupi dan dipengaruhi oleh system yang berlaku, namun yang lebih krusial lagi adalah karena peran itu dimainkan dalam kondisi steril dari kepentingan dan memiliki bobot pressure yang besar, ketimbang gerakan-gerakan kritis lainnya.
Sekaitan dengan berbagai persoalan bangsa, organisasi-organisasi yang diusung oleh para aktivis mahasiswa diharapkan mampu memberangus kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat.

Jakarta, 12 Juni 2008
Oleh: Sholeh Hadi
"Redaktur GMPP"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar